Assalamu'alaikum.... Selamat datang...

Senin, 21 Maret 2011

Nyicil Dinar Pake Dirham


Mendengar dirham telah menembus angka Rp 42.000,- seorang teman sempat terhenyak. "Hah...? Padahal kan waktu bulan kemarin masih tiga enam tiga tujuh..." sahutnya seakan tak percaya sedemikian pesat kenaikan dirham. "Jadi nyesel, dech... Kenapa nggak beli dari dulu-dulu, ya..." sesalnya.

Dalam sebuah kajian majelis taklim di masjid komplek, sempat dibahas mengenai manajemen keuangan keluarga yang disampaikan oleh seorang finansial consultant yang juga adalah seorang agen sebuah perusahaan asuransi. Pada kesempatan itu beliau menyampaikan sebuah paradigma yang selayaknya dijalankan oleh setiap kita yang ingin keuangannya berada pada kondisi sehat dan terhindar dari kebangkrutan.

Hal-hal yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang ketika baru saja mendapatkan uang adalah:
1. Memenuhi kebutuhan konsumtif
2. Membayar hutang (jika ada)
3. Menabung (itu pun kalau masih ada sisa)

Paradigma baru yang beliau sampaikan pada waktu itu adalah dengan membalik urutan:
1. Menabung
2. Bayar Hutang
3. Belanja konsumsi

Masuk akal juga, sih... menurut analisa saya, cieee... analisa... (emang sapa yak?) Ya, kalo boleh dibilang sih, hasil olah pikir saya, dech... kira-kira begini:
1. Menyisihkan sedikit untuk ditabung (sedikit tapi konsisten, lebih baik daripada banyak tapi senantiasa berhenti dalam rencana tanpa realita).
2. Membayar hutang (wajib, kalau ada dananya. Paling tidak dicicil)
3. Belanja konsumtif (jika yang tersisa hanya sedikit, biasanya memunculkan ide-ide kreatif untuk bertindak lebih banyak dalam berikhtiar karena manusia sering nemu ilham dalam kondisi kepepet ^_^ misal, kalau duitnya lagi banyak, gengsi jualan. Kalau lihat orang dagang aja komennya.... ni orang apa... aja dijual.... Begitu tongpes, memberanikan diri untuk menjual sesuatu. Ehe...)

Nah, kaitannya sama dinar dirham... Waktu itu saya sempat tanya, "bagaimana kalau kita menabungnya dalam bentuk dirham. Menurut saya, harganya relatif terjangkau, dan nilainya yang cenderung meningkat." tapi, alih-alih mendapat respon positif, Sang Pembicara langsung menyanggah: "Kalau ibu uangnya juta-jutaan sih, silahkan saja. karena dirham kan logam mulia. Harganya saja jutaan. tapi, kalau beli barang saja masih suka hutang, jangan, lah.... Mendingan buat nutup hutang aja dulu. Menabung belakangan. Saya ini, beli mobil cash, beli rumah cash, baru mikir inves di logam mulia."

hehehe.... Hebat, ya... Seorang finansial consultant, lho.... Dalam hati, saya katakan, "Belum tahu, dia..."
Sempat terjadi sedikit perdebatan antara saya dengan beliau, mengenai sinkronisasi paradigma yang beliau sampaikan dengan komentarnya terhadap apa yang saya tanyakan. Saya berasumsi, bahwa beliau hanya menganggap orang yang pantas menabung adalah orang yang sudah cukup kebutuhan finansialnya. Lho...? Lha barusan bilang, katanya menabung itu nomer satu kalo nggak pengen bangkrut... Kok? Lantas beliau berdalih, 'ya bentuk nabungnya itu berupa asuransi kesehatan, asuransi jiwa, pendidikan, bla..bla..bla.. Setelah tercukupi semuanya, baru ke logam mulia.' begitu, nasehatnya.... Yah... boro-boro, buk.... buat asuransi kesehatan aja ngos-ngosan, mana nggak semua penyakit dicover, mana itung jiwa banyak jumlahnya, kapan bisa nabung kalau ngikutin ginian, mah? hehe... tapi maklum, sih... namanya juga agen asuransi. Bisa dipahamilah...

Namun, saat itu juga saya merasa bahwa inilah saatnya saya mencoba membuka wacana masyarakat, bahwa dirham itu bukan barang mahal... Yang mahal itu dinar. Tapi bukan berarti tidak bisa dibeli. Memang saya akui, beli dinar aja saya belum mampu. Tapi bisa dicicil dengan dirham, sekeping demi sekeping. Setelah terkumpul 46 dirham, bisa kok ditukarkan ke 1 koin dinar. Nggak pake tambahan ongkos apapun. Itu kalau di wakala sobatku, lho... Yang penting konsisten dan rutin sebisa mungkin. Malah bu consultan agak-agak bingung. Rupanya ini hal baru buat beliau... Hehe... biarlah... Semoga sepulangnya dari kajian, beliau nyari2 info tentang dinar dirham. Siapa tahu, tabungannya dimutasikan ke dinar semua. Makin tajir, dech tuh ibuk. :) Dalam hati, saya hanya berniat, yang penting dinar dirham tersosialisasikan. Cukup. Dan paradigma kedua yang pembicara tadi sampaikan bisa terlaksana dengan lebih mudah. Menabung itu nggak usah nunggu uangnya sisa. Biasanya kalau tidak dipaksakan, tidak jadi nabung.

Lagi pula, menabung dalam bentuk rupiah, sebesar apapun janji peningkatannya kelak sekian belas tahun yang akan datang, tetap aja akan kena inflasi. 200juta dalam standar saat ini mungkin sangat besar, namun, 20 tahun lagi, apakah masih sama? Saya rasa tidak. Dulu, waktu masih kelas 1 SD, saya dikasih uang jajan sebesar Rp 25,- rasanya bisa makan macam-macam. Uang seribu hanya boleh dipegang kakak yang sudah kuliah. Sekarang? 25 tahun kemudian, anak saya yang kelas 1 SD aja kalau minta jajan dikasih Rp 1.000,- masih merengut minta nambah. Itulah kenapa, saya lebih memilih saving dalam dirham (dan mudah2an bisa dinar) yang semakin hari semakin tinggi nilainya.

Ingat kisah temen yang terkaget-kaget dengan harga dirham, saya pun makin semangat untuk menyisihkan hasil usaha ke dirham. Suatu saat, mudah-mudahan bisa membantu kebutuhan keuangan keluarga yang terasa banget, semakin hari semakin tak terkendali. Makanya, mendingan sisihkan sedikit demi sedikit dari sekarang. Karena berdasarkan informasi dari wakala Fathir, pada tahun 2002-an, saat awal mulanya dia mengenal dinar dirham, saat itu harga dirham hanya Rp 8.000,- dan sekarang 2011, hanya selisih 9 tahun sudah melonjak menjadi Rp 42.900,- Naiknya 600%. Subhanallah....

Kalau untuk keterangan kenapa begini kenapa begitunya, bisa dibaca-baca di sini.

Semoga bermanfaat....

Rasanya hasil dari sini juga harus kusulap ke dinar dirham aja, ah... Amin...

2 komentar:

Aminah Mustari mengatakan...

lho kok itu pembicara nggak tau kl dirham itu perak mbak? piye...

btw, aku jd terinspirasi nih nyicil pake dirham utk tuker ke dinar yak.

ummu nadifa mengatakan...

Lha ya itu dia... Karena terlalu fokus pada dunia asuransi, sampai2 hal lain jadi gak terlalu penting untuk diperhatikan. Padahal nilainya lebih dari sekedar investasi. Ya, to?

Ayo, lah... nunggu ngumpulin duit buat bl dinar, tau2 harganya naik terus.... kapan nambahnya? hehe...

.