Sejak membaca artikel mengenai manfaat dan kelebihan minyak kelapa, saya mulai coba-coba membeli minyak goreng kelapa dan memakainya untuk memasak di rumah. Awalnya, saya pikir kalau menggunakan minyak goreng kelapa yang harganya relatif lebih mahal dari minyak sawit (+- 2 x lipat) bakal bikin jebol anggaran dapur. Namun setelah saya memakai minyak kelapa, pada kali pertama pakai saja saya sudah terkesima. Waktu itu saya gunakan untuk menggoreng ikan kembung. Dari baunya saja agak berbeda jika dibanding dengan menggoreng pakai minyak sawit. Aromanya benar-benar wow.... Menggoda....banget.... Itu baru baunya.... Pas dicicip, emm.... memang beda, lho... Bukan iklan, kok. Karena sebagai ibu rumah tangga yang termasuk kategori jarang masak enak (amatir kok gak naik-naik tingkatannya...). Jadi malu.... Tapi, setelah merasakan bedanya cita rasa masakan yang dimasak dengan minyak kelapa, entah kenapa, saya jadi pengen masak lagi, dan lagi... Karena... masakan jadi laku, alias disukai anggota keluarga dan mulai pada mau makan masakan di rumah. Alhamdulillah.....
Dan masalah anggaran yang dikhawatirkan akan jebol-jebol karena harga minyak yang lebih mahal, saya rasa tidak perlu lagi dikhawatirkan. Karena minyak goreng kelapa lebih tahan panas daripada minyak sawit. Berdasarkan pengamatan saya, setelah minyak kelapa digunakan untuk menggoreng ikan selama 3 tahap, (3 kali nyemplungin, karena ukuran wajan agak kecil) minyaknya masih jernih. Jika dibandingkan dengan minyak sawit, biasanya untuk cemplungan (apa, ya, bahasa bakunya?) yang kedua saja sudah kecoklatan, cemplungan yang ketiga siap-siap, deh, gosong... Kalau saya, lho.... (sekali lagi, ini analisa versi amatir) Jadi, kalau jelantah hasil goreng ikan sudah tidak layak untuk digunakan lagi. Ini untuk masak ikan.
Eh iya... nggak cuma urusan hasil goreng-menggoreng. Tumis-menumis dan lain-lainpun saya rasakan hasilnya memuaskan selera. Gurihnya berasa. Apalagi jika gula yang digunakan gula merah (gula jawa), masakan terasa lebih nendang (ati-ati ketendang, ya.... :D). Tapi, tergantung jenis masakannya juga, sih... (Deg-degan.... Khawatir dijewer pakar kuliner gara-gara yang nulis di sini lagi sotoy. hehe....)
Sekarang, saya jadi nggak mau pindah ke lain minyak, dech... Karena, pengeluaran tidak jauh beda, tapi hasil masakannya itu, lho.... Bener-bener... rasa nggak pernah bohong.... Padahal saya tidak menggunakan penyedap masakan lagi (kecuali yang udah nyangkut di bakso, sosis, atau produk jadi yang memang dari sononya pake MSG). Tapi karena saya sendiri alergi sama MSG, jadi bumbu penyedap yang macem-macem merknya itu sangat jarang bahkan saya hindari pemakaiannya. Wis, lah... pakai minyak kelapa udah bikin masakan inuk tenan, kok... Lebih sehat, lagi.... Pantes aja jika beberapa restoran ternama tetap menggunakan minyak kelapa untuk mempertahankan kualitas menu yang disajikannya... Cen wenak, je.... Hehehe...metu Watese :)
Yang jadi masalah, kenapa di pasaran masih agak sulit ditemukan minyak goreng kelapa. Dari pertama mulai ngeh dengan minyak kelapa dan segudang kelebihannya, merk yang saya temui kok ya masih itu-itu saja. Si Mister B***o. Beda sekali dengan minyak sawit. Beragam merk dan beraneka kemasan bisa dengan mudah ditemui. Dari warung kecil sampe hypermarket, minyak sawit begitu mendominasi. Padahal jika dilihat dari potensi alam di Indonesia, bukankah kelapa merupakan tanaman yang bertebaran di segala penjuru tanah air? Halow.... pengusaha Indonesia.... Minyak peninggalan nenek moyang kita ini luar biasa, lho.... Kok pada kurang berminat ya....???
Sebagai seorang anak bangsa yang bukan siapa-siapa dan belum bisa berbuat banyak, hanya harapan dan doa yang bisa dipanjatkan. Semoga kelak di kemudian hari (mudah-mudahan sih nggak lama lagi), minyak kelapa yang awalnya menjadi andalan masyarakat nusantara yang kini terasingkan oleh penetrasi industri minyak sawit yang begitu kental dengan nuansa politik kapitalisme, akan kembali bergeliat dan menjadi tuan di rumah sendiri pada akhirnya nanti. Amin... ya Rabbal 'alamin....
Buat teman-teman yang masih sayang dengan kesehatannya, mulai gunakan minyak kelapa, yuuukkkk...... ;)
jendela jiwa bertutur kata
Kamis, 24 Mei 2012
Selasa, 22 Mei 2012
MENGENAL 7 METODE SUNAT/KHITAN (SIRKUMSISI)
Artikel ini saya copy paste dari blog dr. Abu Hana karena terinspirasi oleh pengalaman menyunatkan kedua jagoan saya. Yang pertama sunat dengan metode smart clamp, dan yang kedua pada tanggal 17 Mei 2012 lalu, ternyata menggunakan metode yang berbeda, yaitu "Laser Electrocautery".
Ternyata sekarang ini telah dikenal beberapa metode sunat. Setelah berselancar mencari informasi, akhirnya dapatlah artikel ini. Semoga bermanfaat buat para orangtua yang ingin menyunatkan anaknya. Dengan lebih memahami metode sunat yang dipilih, paling tidak akan lebih nyaman bagi orangtua dan si anak yang akan disunatkan. Selamat membaca.....
MENGENAL 7 METODE SUNAT/KHITAN (SIRKUMSISI)
Oleh : dr. Abu Hana
Bismillah,
Sirkumsisi (circumcision/khitan) atau dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan istilah “sunat” atau “supit”, merupakan tuntunan syariat Islam yang sangat mulia dan disyariatkan baik untuk laki-laki maupun perempuan. Orang-orang Yahudi dan Nasrani-pun sekarang juga banyak yang menjalaninya karena terbukti memberikan manfaat terhadap banyak masalah kesehatan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa khitan memiliki banyak manfaat untuk kesehatan mulai dari mencegah penyakit mematikan seperti AIDS hingga kanker. Penelitian lanjutan tentu akan semakin membuka mata lebar-lebar para praktisi kesehatan bahwa khitan juga sangat bermanfaat bagi kaum hawa.
“Dua penelitian terakhir malah berhenti lebih awal, karena menunjukkan keefektifan yang tinggi tentang khitan dibanding kelompok kontrol yang menolak dikhitan,” jelas peneliti dari Universitas Illinois, Amerika Serikat, Richard Bailey, dalam Konferensi Masyarakat AIDS Internasional di Sydney, Australia.
Tidaklah mungkin dan mustahil jika Allah Ta’ala dan Rosul-Nya telah menuntunkan suatu syariat “Khitan” akan membahayakan bagi ummatnya. Justeru yang ada adalah hikmah dan faedah yang amat besar yang akan terungkap baik dalam waktu cepat atau lambat.
Seiring dengan semakin berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan terutama di bidang kesehatan, metode khitan pun semakin berkembang. Saat ini telah diciptakan banyak peralatan dan obat-obatan untuk membantu melaksanakan khitan, sehingga khitan menjadi proses yang lebih aman dan lebih tidak menyakitkan. Selain itu, banyak pula metode yang mulai dikembangkan dalam pelaksanaan khitan sehingga proses khitan menjadi lebih mudah dan lebih cepat. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Cara seorang dokter dalam melakukan khitan sangat tergantung pada alat, kemampuan dokter dan keterampilan yang dimilikinya. Dalam standar kompetensi dokter 2006 telah dinyatakan bahwa khitan merupakan kompetensi level 4 dimana seorang dokter harus mampu melakukan khitan secara mandiri dan merawat luka khitan sampai sembuh.
Berikut ini adalah penjelasan berbagai macam metode Khitan :
Pertama : METODE KLASIK & DORSUMSISI
Metode klasik sudah banyak ditinggalkan tetapi masih bisa kita temui di daerah pedalaman. Alat yang digunakan adalah sebilah bambu tajam/pisau/silet. Para bong supit alias mantri sunat langsung memotong kulup dengan bambu tajam tersebut tanpa pembiusan. Bekas luka tidak dijahit dan langsung dibungkus dengan kassa/verban sehingga metode ini paling cepat dibandingkan metode yang lain. Cara ini mengandung risiko terjadinya perdarahan dan infeksi, bila tidak dilakukan dengan benar dan steril.
Metode Klasik kemudian disempurnakan dengan metode Dorsumsisi, Khitan metode ini sudah menggunakan peralatan medis standar dan merupakan khitan klasik yang masih banyak dipakai sampai saat ini. Di Sunda dikenal dengan sebutan sopak lodong, umumnya bekas luka tidak dijahit walaupun beberapa ahli sunat sudah memodifikasi dengan melakukan pembiusan lokal dan jahitan minimal untuk mengurangi risiko perdarahan.
Kelebihannya peralatan yang digunakan lebih murah dan sederhana, proses memakan waktu cukup singkat, sudah banyak dikenal masyarakat biaya relatif lebih murah serta bisa digunakan untuk bayi/anak dibawah 3 tahun dimana pembuluh darahnya masih kecil. Kekurangannya risiko kepala (glan) terpotong / tersayat sangat tinggi, terutama jika sayatan dibawah klem koher, mukosa kadang lebih panjang sehingga membutuhkan pemotongan ulang, bisa terjadi nekrosis jika jepitan koher terlalu lama, risiko perdarahan tinggi apabila tanpa dilakukan penjahitan. operasi.
Kedua : METODE STANDAR SIRKUMSISI KONVENSIONAL
Merupakan metode yang paling banyak digunakan hingga saat ini, cara ini merupakan penyempurnaan dari metode dorsumsisi dan merupakan metode standar yang digunakan oleh banyak tenaga dokter maupun mantra (perawat). Alat yang digunakan semuanya sesuai dengan standar medis dan membutuhkan keahlian khusus untuk melakukan metode ini. ( Baca : Cara Khitan Metode Standar).
Kelebihannya peralatannya sudah sesuai standar medis, menggunakan pembiusan local dan benang yang jadi daging, risiko infeksi kecil dan risiko perdarahan tidak ada. Metode ini cocok untuk semua kelompok umur, biayanya cukup terjangkau serta pilihan utama untuk pasien dengan kelainan fimosis. Kekurangannya membutuhkan keahlian khusus dari pengkhitan dan proses waktunya antara 15-20 menit.
Ketiga : METODE LONCENG
Pada metode ini tidak dilakukan pemotongan kulup. Ujung penis hanya diikat erat sehingga bentuknya mirip lonceng, akibatnya peredaran darahnya tersumbat yang mengakibatkan ujung kulit ini tidak mendapatkan suplai darah, lalu menjadi nekrotik, mati dan nantinya terlepas sendiri. Metode ini memerlukan waktu yang cukup lama, sekitar dua minggu. Alatnya diproduksi di beberapa negara Eropa, Amerika, dan Asia dengan namaCircumcision Cord Device.
Keempat : METODE KLAMP
Metode Klamp .,ini memilik banyak variasi alat dan nama walaupun perinsipnya sama, yakni kulup (preputium) dijepit dengan suatu alat (umumnya sekali pakai) kemudian dipotong dengan pisau bedah tanpa harus dilakukan penjahitan. Diantaranya adalah : Gomco, Ismail Clamp, Q-Tan, Sunathrone Clamp, Ali’s Clamp, Tara Clamp dan Smart Clamp. Di Indonesia sendiri yang paling banyak berkembang adalah Metode cincin (Tara Clamp) dan Smart Clamp.
Metode Cincin (Tara Clamp)
Dr. T. Gurcharan Singh adalah penemu Tara klamp pada tahun 1990 berupa alat yang terbuat dari plastik dan untuk sekali pakai. Di Indonesia Metode Cincin dicetuskan oleh oleh dr. Sofin, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, Yogyakarta dan sudah dipatenkan sejak tahun 2001.
Pada metode ini, ujung kulup dilebarkan, lalu ditahan agar tetap meregang dengan cara memasang semacam cincin dari karet. Biasanya, ujung kulup akan menghitam dan terlepas dengan sendirinya. Prosesnya cukup singkat sekitar 3-5 menit. Kelebihan metoda ini adalah: – Mudah dan aman dalam penggunaan, tidak memerlukan penjahitan dan perban,tidak mengganggu aktivitas sehari-hari pasien,perdarahan minimal bahkan bisa tidak berdarah,tidak sakit setelah khitan, tanpa perawatan pasca khitan dan langsung pakai celana dalam dan celana panjang.
Metode Smart Clamp
Smart klamp merupakan metode dan teknik sunatan yang diperkenalkan sejak tahun 2001 di Jerman dan penemunya adalah dr. Harrie van Baars. Alat smart klamp terdiri atas beberapa ukuran, mulai dari nomor 10, 13, 16, dan 21. Untuk bayi, alat yang dipakai nomor 10, sedangkan orang dewasa nomor 21. Alat ini terbuat dari dua jenis bahan kunci klamp, yakni nilon dan polikarbonat yang dikemas steril dan sekali pakai. Tentu saja lebih aman dan bebas dari penularan penyakit dan infeksi. Smart klamp memberikan perlindungan luka dengan sistem tertutup. Luka sayatan terkunci rapat, tidak memungkinkan masuknya kuman atau mikroorganisme pengganggu.
Pada metode ini pasien akan diukur glandpenis-nya, ukuran 0-meter. Setelah diberi anestesi lokal, secara hati-hati preputium dibersihkan dan dibebaskan dari perlengketan dengan gland penis. Batas kulit preputium yang akan dibuang ditandai dengan spidol. Tabung smart klamp dimasukkan ke dalam preputium hingga batas corona gland penis. Lalu, klamp pengunci dimasukkan sesuai arah tabung dan diputar 90 derajat, hingga posisi smart klamp siap terkunci.
Setelah posisi kulit yang akan dibuang dipastikan sesuai rencana, juga agar posisi saluran kencing tidak terhalang tabung. Berikutnya, adalah mengunci klamp hingga terdengar bunyi “klik”. Sisi distal preputium dibuang menggunakan pisau bisturi. Kemudian luka dibersihkan dengan obat antiinfeksi dan dibungkus kasa steril. Hingga proses itu, sunat ala smart klamp selesai.Setelah lima hari, smart klamp dilepas dokter atau perawat dengan teknik yang sangat mudah.
Gomco : Klamp ini dibuat pertama kali pada tahun 1934 oleh Hiram S. Yellen, M.D. dan Aaron Goldstein. Alat ini terdiri dari bel logam dan plat datar dengan lubang di dalamnya untuk menempatkan keduanya dalam posisi yang sesuai. Terdapat sebuah sekrup berbentuk lingkaran yang berfungsi memberikan tekanan.
Ismail Clamp : Ismail Klamp ditemukan oleh Dr Ismail Md Salleh. Alat ini sebenarnya hampir menyerupai alat klamp lainnya, hanya saja alat ini memiliki mekanisme penguncian dengan sistem sekrup, sehingga pemasangan dam pelepasan alat ini sangat mudah tanpa harus merusak alat ini. Saat ini baru tersedia 2 ukuran untuk anak-anak
Q-Tan : Alat ini menyerupai Ismail Clamp hanya saja sistem sekrupnya terkunci mati (irreversible locking system) sehingga alat ini tidak mungkin di daur ulang kembali karena pembukaan alat ini harus dengan dipotong. Alat ini belum diproduksi secara massal dan masih merupakan prototype. Saat ini masih diadakan riset yang mendalam sehingga alat ini layak untuk digunakan secara luas.
Sunathrone Clamp : Sunathrone adalah metode sunat dengan kaedah terkini yang ditemukan oleh Dr Mohammad Tasron Surat, dokter kelahiran Malaysia. Keistimewaan Sunathrone ini adalah kerana praktis dan proses penyembuhannya lebih cepat. Alat khitan sekali pakai ini akan tertanggal sendiri, serta tidak memerlukan perawatan khusus. Setelah khitan dapat langsung memakai celana dan beraktifitas tanpa rasa sakit.Ali’s Clamp : Alat ini mirip dengan Smart Klamp, hanya saja tabung klem-nya didesain miring dengan pertimbangan agar mengikuti kontur glans penis
Metode Kelima : METODE “LASER” ELEKTROKAUTERY
Metode ini sedang booming dan marak di masyarakat dan lebih dikenal dengan sebutan “Khitan Laser”. Penamaan ini sesunnguhnya kurang tepat karena alat yang digunakan samasekali tidak menggunakan Laser akan tetapi menggunakan “elemen” yang dipanaskan.

Alatnya berbentuk seperti pistol dengan dua buah lempeng kawat di ujungnya yang saling berhubungan. Jika dialiri listrik, ujung logam akan panas dan memerah. Elemen yang memerah tersebut digunakan untuk memotong kulup.
Khitan dengan solder panas ini kelebihannya adalah cepat, mudah menghentikan perdarahan yang ringan serta cocok untuk anak dibawah usia 3 tahun dimana pembuluh darahnya kecil. Kekurangannya adalah menimbulkan bau yang menyengat seperti “sate” serta dapat menyebabkan luka bakar, metode ini membutuhkan energi listrik (PLN) sebagai sumber daya dimana jika ada kebocoran (kerusakan) alat, dapat terjadi sengatan listrik yang berisiko bagi pasien maupun operator.
Untuk proses penyembuhan, dibandingkan dengan cara konvensional itu sifatnya relatif karena tergantung dari sterilisasi alat yang dipakai, proses pengerjaanya dan kebersihan individu yang disunat.
Keenam : METODE FLASHCUTTER
Metode ini merupakan pengembangan dari metode elektrokautery. Bedanya terletak pada pisaunya yang terbuat dari logam yang lurus (kencang) dan tajam. Flashcutter langsung dapat hidup (tanpa PLN) karena didalamnya sudah terdapat energi dari rechargeable battery buatan Matshusita Jepang.
Flashcutter pertamakali diluncurkan di Indonesaia tahun 2006 oleh Uniceff Corporation. Cara pemotongan pada khitan sama seperti mempergunakan pisau bedah (digesek, diiris). Dalam hitungan detik preputium terpotong dengan sempurna, (tanpa pendarahan, dan dengan luka bakar sangat minimal).
Ketujuh : METODE LASER CO2
Istilah yang lebih tepat untuk “Khitan Laser” yang sesungguhnya adalah dengan metode ini. Fasilitas Laser CO2 sudah tersedia di Indonesia. Salah satunya, di Jakarta. Laser yang digunakan adalah laser CO2 Suretouch dari Sharplan. Berikut tahapan sunat dengan laser tersebut:
Setelah disuntik kebal (anaestesi lokal), preputium ditarik, dan dijepit dengan klem. Laser CO2 digunakan untuk memotong kulit yang berlebih.Setelah klem dilepas,kulit telah terpotong dan tersambung dengan baik, tanpa setetes darahpun keluar. Walaupun demikian kulit harus tetap dijahit supaya penyembuhan sempurna. Dalam waktu 10-15 menit, sunat selesai.
Cara sirkumsisi seperti ini cocok untuk anak pra-pubertal, kelebihannya operasi cepat, perdarahan tidak ada/ sangat sedikit, penyembuhan cepat, rasa sakit setelah terapi minimal, aman dan hasil secara estetik lebih baik.. dan prosedur ini cocok untuk sunat yang dilakukan pada umur agak dewasa karena rasa sakit, yang ditimbulkan oleh sunat cara operasi untuk orang sudah cukup berumur lebih parah daripada jika dilakukan pada usia muda dan lukanya pun agak lama sembuhnya. Kelemahan dari cara laser adalah masalah harga yang relatif mahal dan hanya ada di Rumah Sakit besar.
Apapun metode yang anda pilih tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun demikian ada sedikit Tips dari saya bagi anda untuk memilih metode khitan :
- Ikhlaskan niat bahwa Khitan merupakan tuntunan syariat agama yang sangat mulia, Berdo’alah hanya kepada Allah Ta’ala semata agar diberikan kemudahan.
- Hindari memilih hari-hari baik tertentu untuk khitan berdasarkan “terawangan” para kyai/paranormal, agar Anda terhindar dari kesyirikan yang dilarang. Semua hari pada dasarnya baik dan tidak ada hari buruk namun Anda diperbolehkan memilih waktu yang tepat sesuai dengan pekerjaan Anda atau liburan sekolah anak, Bagaimanapun juga anak Anda butuh didampingi dan support dari orangtuanya ketika di khitan dan biarkan ia cuti sejenak dari sekolah/aktifitasnya agar mempercepat kesembuhan.
- Sebaiknya Anda datang ke dokter. Tehnik apa yang akan Anda pilih tergantung Anda sendiri. Kalau dengan teknik konvensional, semua dokter biasanya bisa mengerjakan.
- Tanyakan kepada sahabat dan kerabat tempat khitan yang baik, agar anda memperoleh informasi yang benar dan dapat berbagi pengalaman.
- Sesuaikan dengan kondisi keuangan Anda, Metode konvensional umumnya sangat terjangkau. Metode elektrokauter, klamp dan flashcutter agak mahal sedangkan laser CO2 mungkin yang paling mahal dan hanya ada di Rumah Sakit besar.
- Jika ingin mengikuti khitanan masal pastikan bahwa ada dokter penanggungjawab, sehingga jika ada masalah memudahkan Anda untuk berkoordinasi.
Semoga bermanfaat,
Alfaqiir Ilallaahi Ta’ala,
dr.Abu Hana
SUMBER :
FlashCutter, http://uniceffcorporation.com/?page_id=96
Smart Klamp Sunat Tanpa Rasa Sakit,http://yatibasri.wordpress.com/2008/06/21/smart-klamp-sunat-tanpa-rasa-sakit/
Sunat Khitan Dengan Metode Tara Klamp, http://heldi.net/2008/07/sunat-khitan-dengan-metoda-tara-klamp/
Sunat Konvensional dan Sunat Laser http://www.mer-c.org/penyakit-kulit/117-sunat-konvensional-dan-sunat-laser.html
Tanya Soal Sunat/Khitan, http://mediasehat.com/tanyajawab493
Promo Tas Ransel Batik
PROMO TAS Ransel Batik
Harga biasa Rp 35.000,-
Harga pembanding di salah satu Mall di kawasan Cibubur: Rp 75.000,-
HARGA PROMO Sekarang : Rp 30.000,-
Buruan, ya... Selama persediaan masih ada...
Hub:
0819 3206 8533 (Ari_N)
Pin BB by request
Kamis, 19 April 2012
MERAIH KEUNTUNGAN DARI MINYAK KELAPA

Kelapa (Cocos nucifera) adalah tanaman yang hampir seluruh bagiannya bisa dimanfaatkan manusia. Mulai dari daging buahnya, air kelapanya (untuk nata de coco), tempurungnya, sabutnya, daun mudanya (untuk ketupat dan hiasan pengantin), lidinya (untuk sapu), batangnya (bahan bangunan dan meubel). Namun yang memiliki nilai ekonomis tertinggi adalah daging buahnya sebagai bumbu masakan (santan) dan minyak kelapa. Setelah pengembangan kelapa sawit (Elaeis guineensis), pamor kelapa sebagai penghasil minyak nabati mulai surut. Sebab minyak sawit mentah (Crude Palm Oil = CPO) merupakan lemak nabati yang bisa diproduksi dengan biaya termurah di dunia. Yang dikalahkan sawit bukan hanya kelapa tetapi juga minyak kacang tanah, bunga matahari, kedelai dan jagung.
Selama ini, proses pembuatan minyak kelapa dilakukan dengan dua cara. Pertama cara tradisional. Daging buah kelapa tua diparut, dibuat santan dan santan inilah yang direbus sampai menggumpal. Agar santan mau menggumpal ketika direbus, proses penyantanannya jangan menggunakan air biasa melainkan dengan air kelapanya. Bagian yang menggumpal ini dipisahkan dari airnya, lalu terus dipanaskan sampai menjadi minyak. Proses ini memerlukan banyak energi, baik energi minyak tanah/solar maupun kayu bakar sebagai pemanas santan. Hasilnya merupakan "minyak kelentik" yang harganya lebih tinggi dari minyak sawit produksi pabrik. Limbahnya ampas kelapa yang bisa untuk pakan ternak, blendo (protein) untuk makan ketan dan bumbu rendang, serta tempurung yang biasanya untuk substitusi bahan bakar.
Pembuatan minyak kelapa secara tradisional ini, masih banyak dilakukan oleh masyarakat di pedalaman pulau Jawa bagian selatan. Misalnya saja di Ciamis. Hasil minyak maupun blendonya, bangak ditampung oleh restoran yang masih mengutamakan kualitas menu. Sebab sayur yang bumbunya digoreng dengan minyak kelapa, rasanya tetap lebih sedap dibanding dengan minyak sawit. Kelemahan agroindustri minyak kelapa secara tradisional ini adalah rendemennya sangat rendah. Idealnya dari lima butir kelapa ukuran sedang, bisa dihasilkan satu kilogram minyak kelapa (1 : 5). Namun dengan cara tradisional ini, satu kilogram minyak harus dihasilkan dari tujuh butir kelapa ukuran sedang (1 : 7).
Yang selama ini paling banyak dilakukan oleh patani kelapa adalah, mengeringkan daging buah menjadi kopra. Caranya, kelapa tua dibelah menjadi dua lalu daging buah dan tempurungnya dipisahkan. Daging buah kelapa itu selanjutnya dijemur sampai benar-benar kering. Kelapa kering inilah yang disebut sebagai kopra. Setelah minyak sawit merajai pasar lemak nabati, harga kopra jatuh hingga tidak sepadan dengan biaya pembuatannya. Di pabrik, kopra ini dihancurkan (digiling) dan dipres hingga diperolah minyak kelapa mentah. Setelah diproses lebih lanjut, antara lain dengan pemanasan, diperoleh minyak kelapa yang siap untuk dimanfaatkan. Selain diproses menjadi minyak goreng, minyak kelapa mentah juga merupakan bahan sabun mandi dan sabun cuci. Tetapi perannya sebagai sabun mandi digeser oleh minyak CPO dan sebagai bahan sabun cuci dikalahkan deterjen dari minyak bumi.
Deperindag sudah sejak lama juga mengembangkan teknik pembuatan minyak kelapa dengan mesin sederhana. Caranya, daging buah kelapa dihancurkan, dipanaskan (dengan bahan bakar) lalu dipres. Hasilnya adalah minyak kelapa model "klentikan" yang harganya lebih tinggi dari minyak sawit, namun dengan rendemen lebih besar dari model klentikan. Limbahnya berupa ampas campur blendo (mirip srundeng), yang bisa dikonsumsi langsung maupun untuk bahan rendang. Model agroindustri ini juga kurang berkembang karena harga mesinnya masih relatif tinggi untuk para petani penghasil kelapa (di atas Rp 100.000.000,-). Tingginya harga mesin disebabkan oleh volume produksi yang hanya satu dua, belum merupakan produk massal.
Yang paling layak untuk diusahakan oleh para petani kelapa adalah, agroindustri minyak dengan ragi yuyu (ketam sawah = Paratelphusa). Fungsi ketam sawah sebenarnya hanyalah untuk starter awal. Ragi untuk proses fermentasi selanjutnya, cukup menggunakan bahan yang telah terfermentasi. Peralatan untuk agroindustri ini hanyalah parang atau kapak pemecah dan pencungkil kelapa, mesin pemarut, alat pres sederhana dengan pasak, wadah untuk fermentasi, tampah atau alas penjemur dan sarana pemanas minyak. Hasil minyak dari proses ini bisa mencapai 1 : 5, lebih tinggi dari rendemen proses klentikan. Meskipun kualitas minyaknya sedikit di bawahnya. Namun dengan mencampurkan sekitar 5 % minyak klentikan, maka kualitas minyak kelapa ragi yuyu ini bisa ditingkatkan.
Mula-mula kelapa tua dikupas dari sabutnya, dibelah menjadi dua secara horisontal, airnya ditampung. Kelapa yang telah terbelah dua dicungkil hingga terpisah dari tempurungnya. Daging buah kelapa diparut dengan mesin pemarut yang nilai investasinya sekitar Rp 2.500.000,- Hasil parutan awal ini harus diberi ragi yuyu. Caranya, dicari dua atau tiga ekor yuyu ukuran sedang di sawah-sawah. Yuyu ini dihancurkan dengan cara ditumbuk, diuleg atau diblender, lalu diperas airnya. Ampasnya dibuang. Air perasan yuyu inilah yang dicampurkan ke dalam parutan dua atau tiga butir kelapa. Setelah air perasan yuyu tercampur sempurna, parutan kelapa ditaruh dalam panci atau wadah lain, ditutup dengan kain lalu dibiarkan selama 24 jam (sehari semalam). Hasilnya, parutan kelapa itu akan berubah menjadi pasta.
Pasta dari dua atau tiga butir kelapa ini bisa untuk ragi fermentasi bagi 20 sd. 30 butir kelapa (10% ragi untuk 100% kelapa). Perlakuannya sama, ragi dicampurkan ke dalam parutan kelapa lalu diperam selama 24 jam. Hasilnya sama, parutan kelapa akan menjadi pasta. Hasil ini (110%) diambil 10%nya untuk ragi dalam proses berikutnya. Demikian seterusnya, hingga yuyu hanya diperlukan pada waktu proses awal. Sisa pasta yang 100% dijemur sampai airnya hilang. Penjemuran dilakukan dengan wadah tampah atau wadah lain yang diberi lapisan plastik, agar minyaknya tidak terserap oleh bambu bahan wadah. Penjemuran di bawah terik matahari penuh, akan makan waktu antara dua sampai tiga hari. Tanda adonan sudah tidak mengandung air adalah, seluruh bagian pasta (sampai ke bagian dalamnya) telah berubah dari warna putih menjadi kecokelatan. Kalau bagian dalamnya masih ada yang putih, berarti penjemuran harus terus dilanjutkan.
Pasta yang telah benar-benar tidak mengandung air, dimasukkan ke dalam karung plastik atau karung kain (bekas gandum) dan dipres dengan alat pres kayu yang ditekan dengan pasak. Alat pres besi yang ditekan dengan uliran (baut beroda yang diputar), juga bisa digunakan meskipun harganya agak lebih tinggi. Hasilnya adalah ampas pasta yang bisa dimasak untuk lauk maupun digunakan sebagai pakan ternak, dan minyak kelapa yang jernih. Minyak inilah yang harus dipanaskan untuk mematikan aflatoksin dan menghilangkan sisa air yang masih terdapat di dalamnya (menuakan). Untuk meningkatkan aroma minyak, ke dalamnya bisa dicampurkan 5 sd. 10% minyak kelapa hasil klentikan. Proses pembuatan minyak kelapa dengan ragi yuyu ini banyak dilakukan oleh masyarakat di pedalaman Jawa bagian selatan, dan pernah dimuat di Majalah Tarik terbitan Yayasan Dian Desa tahun 1970an.
Selain rendemennya lebih tinggi, pembuatan minyak kelapa dengan ragi yuyu ini juga hemat energi. Sebab prosesnya tidak menggunakan air (untuk penyantanan) dan tidak melalui pemasakan dalam jangka waktu lama. Minyak kelentik memerlukan pemasakan santan dan gumpalan minyak + blendo dalam jangka waktu lama (1 sd. 2 jam). Dalam proses ini, penghilangan air dilakukan melalui penjemuran. Pemanasan minyak dalam tahap akhir, hanyalah dilakukan sekitar 5 sd. 10 menit untuk menuakan minyak hasil fermentasi dan mencampurnya dengan minyak kelentikan. Hasil akhir bisa dikemas dalam botol maupun jerigen plastik dan ditutup rapat.
Harga minyak goreng sawit, sekarang sekitar Rp 7.000,- per kg. Minyak curah (wadah kaleng 20 kg. harganya lebih murah daripada yang kemasan (botol atau kantung plastik). Harga minyak kelapa, baik yang dari kopra, klentikan maupun cara lain, rata-rata di atas Rp 10.000,- per kg. Salah satu kemasan minyak kelapa bermerk di pasar swalayan, harganya Rp 13.000,- per liter. Hingga harga per kg. minyak tersebut (tanpa kemasan) tetap di atas Rp 10.000,- Meskipun harganya lebih tinggi, banyak hotel dan restoran yang tetap memilih minyak kelapa, dengan pertimbangan faktor kualitas rasa masakannya. Hingga sebenarnya, agroindustri minyak kelapa masih tetap menguntungkan untuk dilakukan saat ini. Baik dengan skala industri besar maupun industri rumah-tangga.
Selain untuk bahan minyak goreng, sebenarnya kelapa juga merupakan bahan virgin oil untuk industri kosmetika. Selama ini para produsen kosmetika masih mengimpor virgin oil, karena di dalam negeri belum ada yang melakukannya. Virgin oil adalah minyak kelapa yang jernih (bening). Minyak ini diproduksi dengan cara memarut kelapa tua dengan mesin biasa, seperti halnya kalau mau membuat minyak kelentikan maupun dengan ragi yuyu. Hasil parutan ini kemudian diperas atau dipres tanpa dicampur air. Hingga santan yang diperoleh sangat pekat. Air yang ada di santan tersebut merupakan air yang terkandung dalam daging buah kelapa. Santan ini selanjutnya difermentasi dengan starter bakteri. IPB telah memproduksi bakteri ini dan bisa digunakan untuk skala komersial. Santan yang telah terfermentasi akan terpisah menjadi minyak yang sangat jernih dan protein yang juga bisa dikonsumsi. Air dalam santan akan terikat dalam protein ini.
Selanjutnya minyak dipisahkan dari protein dan air dengan cara menyaringnya. Air yang ikut tercampur dalam minyak akan mudah dipisahkan, karena terkumpul di bagian bawah. Hasil minyak inilah yang disebut sebagai virgin oil, yang harus segera dikemas untuk dipasarkan. Idealnya, agroindustri pengolahan daging buah kelapa, juga sekalian merupakan agroindustri arang tempurung dan nata de coco. Sabutnya bisa digunakan untuk bahan bakar atau diolah menjadi serat dan gabus (cocodush). Namun pengolahan sabut ini sulit untuk disatukan dengan agroindustri minyak. Sebab pengupasan kelapa dari sabutnya, umumnya dilakukan di tingkat petani. Sementara pemisahan daging buah kelapa dari tempurung dan airnya, dilakukan di tingkat perajin minyak atau kopra. Hingga yang bisa disatukan dengan agroindustri minyak kelapa hanyalah produksi arang tempurung dan nata de coco. (R) * * *
Sumber: http://foragri.blogsome.com/meraih-keuntungan-dari-minyak-kelapa/
Minyak Goreng Yang Aman Untuk Kesehatan
Minyak Kelapa, paling aman bagi tubuh
Bagi kita semua, terutama para pejuang kanker, memilih jenis minyak goreng sama pentingnya dengan menentukan kualitas minyak dan melakukan penggorengan sendiri di rumah. Karena ada banyak jenis minyak goreng yang sering digembar-gemborkan aman bagi kesehatan, ternyata justru memiliki potensi bahaya.
Yang jelas-jelas tidak aman adalah minyak jelantah. Minyak jelantah adalah minyak yang sudah pernah dipakai, sehingga sudah mengandung akrilamida, radikal bebas, dan asam lemak trans. Terlebih kalau warnanya sudah kecoklatan, dan teksturnya kental. Kalau dipanaskan lagi, semakin tinggi kandungan senyawa-senyawa karsinogenik tersebut di dalamnya.
Struktur molekul minyak juga memiliki pengaruh penting. Menurut Iwan T. Budiarso, dengan memperhatikan struktur molekulnya minyak dapat dibedakan atas bermacam-macam jenis.
Berdasarkan ada atau tidaknya ikatan ganda dalam struktur molekulnya, minyak dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yakni:
(1) minyak dengan asam lemak jenuh (saturated fatty acids)
Asam lemak jenuh antara lain terdapat pada air susu ibu (asam laurat) dan minyak kelapa. Sifatnya stabil dan tidak mudah bereaksi/berubah menjadi asam lemak jenis lain.
(2) minyak dengan asam lemak tak jenuh tunggal (mono-unsaturated fatty acids) maupun majemuk (poly-unsaturated fatty acids)
Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan atom karbon rangkap yang mudah terurai dan bereaksi dengan senyawa lain, sampai mendapatkan komposisi yang stabil berupa asam lemak jenuh. Semakin banyak jumlah ikatan rangkap itu (poly-unsaturated), semakin mudah bereaksi/berubah minyak tersebut.
Asam lemak tak jenuh (omega 3, omega 6, omega 9) sering dipromosikan memiliki banyak manfaat, antara lain menurunkan “kolesterol jahat” (LDL = low density lipoprotein) dan mencegah serangan jantung. Banyak terdapat pada minyak sayur seperti minyak kedelai, minyak canola, minyak bunga matahari, minyak kelapa sawit, dll.
Sayangnya mereka tidak mencantumkan peringatan bahwa asam lemak tak jenuh hanya baik bila langsung dikonsumsi tanpa diolah/dipanaskan dulu; juga jumlahnya tak boleh lebih dari 4 gram sehari. Karena jika dipakai untuk menggoreng, asam lemak tak jenuh justru lebih mudah membentuk akrilamida, radikal bebas, dan lemak trans yang berbahaya!

Gambar di atas menunjukkan perbandingan kandungan asam lemak jenuh, asam lemak tak jenuh tunggal, maupun asam lemak tak jenuh ganda dari berbagai jenis minyak. Silakan Anda membandingkannya sendiri.
(3) minyak dengan asam lemak trans (trans fatty acid)
Asam lemak trans banyak terdapat pada lemak hewan, margarin, mentega, minyak terhidrogenasi, dan terbentuk dari proses penggorengan. Selain karsinogenik, lemak trans meningkatkan kadar kolesterol jahat, menurunkan kadar kolesterol baik, dan menyebabkan bayi-bayi lahir prematur.
PANJANG-PENDEK RANTAI KARBON
Selain dibedakan berdasarkan struktur molekulnya, minyak dapat dibedakan berdasarkan panjang-pendek rantai karbonnya. Minyak kelapa merupakan minyak yang 92%-nya mempunyai panjang rantai karbon sedang (medium chain fatty acids=MCFA). 50% di antaranya merupakan asam laurat seperti terdapat pada air susu ibu, yang dapat membunuh berbagai kuman, virus, dan parasit. Molekulnya terdiri atas 12 atom karbon yang diikat jenuh (tidak ada ikatan ganda).
Minyak dengan rantai karbon pendek dan sedang dapat langsung diserap oleh tubuh tanpa melalui proses cerna yang berbelit-belit. Langsung dibawa ke hati untuk diubah menjadi energi untuk meningkatkan fungsi kelenjar endokrin, organ, serta jaringan-jaringan tubuh.
Minyak sayur pada umumnya tergolong asam lemak rantai panjang (long chain fatty acids = LCFA), yang terdiri atas 18 atom karbon atau lebih. Ukuran molekulnya besar-besar, sehingga perlu diproses dulu menjadi asam lemak berukuran kecil dan berbentuk asam lemak bebas agar dapat diserap melalui dinding usus. Setelah lolos dari dinding usus, asam lemak bebas ini disusun kembali menjadi lipoprotein kemudian dibawa ke hati. Di sana diubah menjadi energi, kolesterol, dan sisanya ditimbun menjadi jaringan lemak. Nah, kolesterol dan lemak inilah yang menjadi penyebab berbagai penyakit kronis, degeneratif, maupun kanker.
Menurut penelitian, yang paling banyak kandungan LCFA-nya adalah minyak safflower (78%), disusul minyak bunga matahari (69%), dan minyak canola (31%). Kandungan LCFA minyak zaitun berkisar 9%, sedang yang paling rendah adalah minyak kelapa (2%).
MINYAK KELAPA
Dengan mempertimbangkan berbagai keterangan di atas dapat kita simpulkan, bahwa minyak goreng yang paling aman bagi tubuh kita, terlebih bagi pejuang kanker, ternyata adalah minyak kelapa. Minyak goreng tradisional warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang telah begitu lama kita tinggalkan. Bukan minyak kedelai, minyak bunga matahari, minyak canola, minyak zaitun, apalagi margarin atau minyak sawit! (Titah Rahayu/rumahkanker.com)
Tahukah Anda?
MENGAPA ORANG INDONESIA SAKIT KANKER?
"Indonesia sangat kaya tanaman berkhasiat antikanker, jauh lebih kaya daripada Cina, dan lebih bagus mutunya. Tetapi mengapa angka kejadian kanker di Indonesia lebih tinggi daripada Cina? Karena orang Indonesia suka sekali makan gorengan..."
(Prof. Dr. Li Peiwen, ahli kanker & obat tradisional senior Cina.)
Sumber: http://rumahkanker.com/pencegahan/pencegahan/69-minyak-goreng-yang-aman
Bagi kita semua, terutama para pejuang kanker, memilih jenis minyak goreng sama pentingnya dengan menentukan kualitas minyak dan melakukan penggorengan sendiri di rumah. Karena ada banyak jenis minyak goreng yang sering digembar-gemborkan aman bagi kesehatan, ternyata justru memiliki potensi bahaya.
Yang jelas-jelas tidak aman adalah minyak jelantah. Minyak jelantah adalah minyak yang sudah pernah dipakai, sehingga sudah mengandung akrilamida, radikal bebas, dan asam lemak trans. Terlebih kalau warnanya sudah kecoklatan, dan teksturnya kental. Kalau dipanaskan lagi, semakin tinggi kandungan senyawa-senyawa karsinogenik tersebut di dalamnya.
Struktur molekul minyak juga memiliki pengaruh penting. Menurut Iwan T. Budiarso, dengan memperhatikan struktur molekulnya minyak dapat dibedakan atas bermacam-macam jenis.
Berdasarkan ada atau tidaknya ikatan ganda dalam struktur molekulnya, minyak dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yakni:
(1) minyak dengan asam lemak jenuh (saturated fatty acids)
Asam lemak jenuh antara lain terdapat pada air susu ibu (asam laurat) dan minyak kelapa. Sifatnya stabil dan tidak mudah bereaksi/berubah menjadi asam lemak jenis lain.
(2) minyak dengan asam lemak tak jenuh tunggal (mono-unsaturated fatty acids) maupun majemuk (poly-unsaturated fatty acids)
Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan atom karbon rangkap yang mudah terurai dan bereaksi dengan senyawa lain, sampai mendapatkan komposisi yang stabil berupa asam lemak jenuh. Semakin banyak jumlah ikatan rangkap itu (poly-unsaturated), semakin mudah bereaksi/berubah minyak tersebut.
Asam lemak tak jenuh (omega 3, omega 6, omega 9) sering dipromosikan memiliki banyak manfaat, antara lain menurunkan “kolesterol jahat” (LDL = low density lipoprotein) dan mencegah serangan jantung. Banyak terdapat pada minyak sayur seperti minyak kedelai, minyak canola, minyak bunga matahari, minyak kelapa sawit, dll.
Sayangnya mereka tidak mencantumkan peringatan bahwa asam lemak tak jenuh hanya baik bila langsung dikonsumsi tanpa diolah/dipanaskan dulu; juga jumlahnya tak boleh lebih dari 4 gram sehari. Karena jika dipakai untuk menggoreng, asam lemak tak jenuh justru lebih mudah membentuk akrilamida, radikal bebas, dan lemak trans yang berbahaya!
Gambar di atas menunjukkan perbandingan kandungan asam lemak jenuh, asam lemak tak jenuh tunggal, maupun asam lemak tak jenuh ganda dari berbagai jenis minyak. Silakan Anda membandingkannya sendiri.
(3) minyak dengan asam lemak trans (trans fatty acid)
Asam lemak trans banyak terdapat pada lemak hewan, margarin, mentega, minyak terhidrogenasi, dan terbentuk dari proses penggorengan. Selain karsinogenik, lemak trans meningkatkan kadar kolesterol jahat, menurunkan kadar kolesterol baik, dan menyebabkan bayi-bayi lahir prematur.
PANJANG-PENDEK RANTAI KARBON
Selain dibedakan berdasarkan struktur molekulnya, minyak dapat dibedakan berdasarkan panjang-pendek rantai karbonnya. Minyak kelapa merupakan minyak yang 92%-nya mempunyai panjang rantai karbon sedang (medium chain fatty acids=MCFA). 50% di antaranya merupakan asam laurat seperti terdapat pada air susu ibu, yang dapat membunuh berbagai kuman, virus, dan parasit. Molekulnya terdiri atas 12 atom karbon yang diikat jenuh (tidak ada ikatan ganda).
Minyak dengan rantai karbon pendek dan sedang dapat langsung diserap oleh tubuh tanpa melalui proses cerna yang berbelit-belit. Langsung dibawa ke hati untuk diubah menjadi energi untuk meningkatkan fungsi kelenjar endokrin, organ, serta jaringan-jaringan tubuh.
Minyak sayur pada umumnya tergolong asam lemak rantai panjang (long chain fatty acids = LCFA), yang terdiri atas 18 atom karbon atau lebih. Ukuran molekulnya besar-besar, sehingga perlu diproses dulu menjadi asam lemak berukuran kecil dan berbentuk asam lemak bebas agar dapat diserap melalui dinding usus. Setelah lolos dari dinding usus, asam lemak bebas ini disusun kembali menjadi lipoprotein kemudian dibawa ke hati. Di sana diubah menjadi energi, kolesterol, dan sisanya ditimbun menjadi jaringan lemak. Nah, kolesterol dan lemak inilah yang menjadi penyebab berbagai penyakit kronis, degeneratif, maupun kanker.
Menurut penelitian, yang paling banyak kandungan LCFA-nya adalah minyak safflower (78%), disusul minyak bunga matahari (69%), dan minyak canola (31%). Kandungan LCFA minyak zaitun berkisar 9%, sedang yang paling rendah adalah minyak kelapa (2%).
MINYAK KELAPA
Dengan mempertimbangkan berbagai keterangan di atas dapat kita simpulkan, bahwa minyak goreng yang paling aman bagi tubuh kita, terlebih bagi pejuang kanker, ternyata adalah minyak kelapa. Minyak goreng tradisional warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang telah begitu lama kita tinggalkan. Bukan minyak kedelai, minyak bunga matahari, minyak canola, minyak zaitun, apalagi margarin atau minyak sawit! (Titah Rahayu/rumahkanker.com)
Tahukah Anda?
MENGAPA ORANG INDONESIA SAKIT KANKER?
"Indonesia sangat kaya tanaman berkhasiat antikanker, jauh lebih kaya daripada Cina, dan lebih bagus mutunya. Tetapi mengapa angka kejadian kanker di Indonesia lebih tinggi daripada Cina? Karena orang Indonesia suka sekali makan gorengan..."
(Prof. Dr. Li Peiwen, ahli kanker & obat tradisional senior Cina.)
Sumber: http://rumahkanker.com/pencegahan/pencegahan/69-minyak-goreng-yang-aman
Langganan:
Entri (Atom)













