Assalamu'alaikum.... Selamat datang...

Minggu, 24 April 2011

Pasar Islam; Sebuah Solusi untuk Umat

Jika ditelaah mengenai Sistem Perdagangan Islam, kemampuannya dalam meningkatkan ekonomi masyarakat sangat signifikan karena sistemnya yang adil berhasil meningkatkan kemampuan masyarakat terhadap potensi ekonomi mereka yang tertinggi, dengan menawarkan kemudahan yang sama pada setiap orang untuk memasuki jaringan bisnis dalam kondisi seimbang dan adil yang serupa.

Sampai abad XV, Sistem Perdagangan Islam sepenuhnya mendominasi perdagangan dunia. Namun, sejak saat itulah bangsa Eropa mulai mengambil alih kekuatan itu dengan berbagai muslihat riba hingga bertahan hingga abad ini. Seharusnya, sudah selayaknya ummat Islam berperan aktif dalam upaya mengembalikan kejayaan Sistem Perdagangan Islam dengan membangun Pasar-pasar Islam terbuka demi kesejahteraan umat manusia itu sendiri.


Apakah Pasar Islam Terbuka Itu?

Pada zaman kenabian, segera setelah kedatangannya di Madinah al-Munawwarah, Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam, mendirikan dua lembaga: sebuah mesjid dan sebuah pasar. Beliau Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam, menjelaskan dengan penjelasan dan perintah yang tegas bahwa lokasi pasar merupakan tempat yang bebas dimasuki oleh semua orang, tanpa ada pembagian (seperti toko/los/kios) dan tidak terdapat pajak, retribusi atau sewa yang harus dibebankan.

Pedagang diwajibkan memahami hukum riba dan fiqih dagang

Khalifah Umar bin Khattab ra mengusir pedagang yang tidak memahami riba dan fiqih dagang dari pasar.

Pasar Itu Seperti Masjid

Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam, berkata: “Pasar harus mengikuti sunnah yang sama seperti masjid: siapapun yang mendapatkan tempat pertama mempunyai hak atas tempat itu sampai dia meninggalkannya dan pulang ke rumahnya atau telah selesai dalam berjualan.” (Al-Hindi, Kanz al-‘Ummal,V,488, no. 2688.

Pasar Merupakan Shadaqah, Tanpa Kepemilikan Pribadi

Ibrahim ibn al-Mundir al Hizami meriwayatkan dari Abdallah ibn Ja’far , bahwa Muhammad ibn Abdallah ibn Hasan berkata, “Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam, memberikan Muslim pasar kepada mereka sebagai hadiah.” (Ibn Shabba, K. Tarikh al-Madinah al-Munawwarah, 304)

Tidak Dikenakan Sewa
Ibn Zabala meriwayatkan bahwa Khalid ibn Ilyas al-‘Adawi berkata, “Surat Umar ibn Abd al-Azis dibacakan kepada kami di Madinah, dikatakan bahwa pasar merupakan shadaqah dan tidak ada sewa (kira’) yang harus dibebankan pada siapapun atas pasar.”
(As-Samhudi, Wafa al-Wafa, 749)

Tanpa Pungutan Pajak
Ibrahim ibn al-Mundhir meriwayatkan dari Ishaq ibn Ja’far ibn Muhammad, dari Abdallah ibn Ja’far ibn al-Miswar, dari Shuryh ibn Adallah ibn Abi Namir, bahwa Ata’ ibn Yasar berkata, “Ketika Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam, ingin menyiapkan pasar di Madinah, beliau pergi ke pasar Bani Qaynuqa’ lalu datang ke pasar Madinah, menjejakkan kakinya ke tanah dan berkata, ‘Ini adalah pasarmu, jangan biarkan pasar ini dikurangi dan jangan biarkan ada pungutan pajak ’” (Ibn Shabba, K. Tarikh al-Madinah al-Munawwarah, 304)

Tidak Diperkenankan Memesan Tempat Dagang
Ibn Zabala meriwayatkan dari Hatim ibn Isma’il bahwa Habib berkata bahwa Umar ibn al-Khattab (saat) melewati Gerbang Ma’mar di pasar dan (melihat bahwa) sebuah kendi telah diletakkan di depan gerbang maka beliau memerintahkan untuk menyingkirkan kendi…Umar melarang untuk meletakkan tanda apapun di sebuah tempat atau meletakkan tuntutan atasnya [dalam cara apapun]. (As-Samhudi, Wafa al-Wafa, 749)

Toko di Dalam Pasar Tidak Diperkenankan
Ibn Shabba meriwayatkan dari Salih ibn Kaysan …bahwa…Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam, … berkata: ‘Ini adalah pasarmu. Jangan membangun apapun dengan batu [di atasnya], dan jangan membiarkan ada pungutan pajak.” (As-Samhudi, Wafa al-Wafa, 747-8)

Abu Ar-Rijal meriwayatkan dari Isra’il, dari Ziyad ibn Fayyad, salah satu dari Shaykh Madinah bahwa Umar ibn al Khattab, radiyallahu ‘anhu, melihat sebuah toko (dukkan) yang baru diletakkan di pasar oleh seseorang dan beliau menghancurkannya. (Ibn Shabba, K. Tarikh al-Madinah al-Munawwarah, 750)

Adanya Muhtasib
Muhtasib bertugas mengawasi pasar agar tidak terjadi kegiatan muamalah yang melanggar syar’i seperti berdusta dan sumpah palsu dalam menawarkan dagangan, barang-barang haram, penipuan, penimbunan barang, manipulasi harga dan lain-lain.

Khalifah Umar bin Khattab ra berkeliling sendiri di pasar-pasar untuk mengawasi transaksi di dalamnya.

Beliau membawa tongkatnya untuk meluruskan penyimpangan dan menghukum orang yang menyimpang (Ibnu Sa’ad, ath-Thabaqat al-Kubra 5/43-44).

Dan Beliau juga menunjuk para pegawai untuk mengawasi pasar (Ibnu Abdul Barr, al-Isti’ab 4/341)

Dalam Pasar Islam Terbuka yang asli tidak ada tempat yang dimiliki secara pribadi atau dipesan, tidak ada biaya sewa, dan semua tempat dapat diperoleh secara sama oleh setiap pedagang, baik yang ahli ataupun tidak. Ciri Pasar Islam yang paling terkenal adalah karavannya, sedang karavan tidak akan ada tanpa tempat untuk berdagang. Pasar adalah permata untuk setiap kota Islam.

Hal-hal seperti di atas sangat memungkinkan karena seorang khalifah memiliki peran sentral dan tegas dalam menentukan kebijakan. Setelah raibnya kekhalifahan, tata cara waqaf dari pasar hancur dan harta milik
dijual. Walaupun harta waqaf tidak dapat dijual, tetapi sudah menjadi kebijakan dari penguasa kolonial untuk menghancurkan waqaf secara sistematis. Hasilnya adalah akhir dari Pasar Islam, lumpuhnya perdagangan dan secara alami merupakan akhir dari karavan.

Tanpa Pasar Islam, dunia Muslim harus bersandar pada ide-ide kapitalisme untuk pembangunan, yang sama sekali asing dengan Hukum Islam dan kebiasaan-kebiasaannya. Tanpa Pasar Islam, para pedagang terpaksa harus membayar sewa untuk toko-toko kecil yang tersebar di sekitar kota, dan banyak yang terpaksa untuk berdagang di jalanan. Situasi ini menciptakan konsekuensi yang tidak diinginkan: meningkatnya sektor yang tidak efisien dari pedagang eceran kecil di jalanan dan toko-toko kecil, dan kemunculan yang cepat dari pusat perdagangan dan supermarket yang efisien tapi bersifat monopoli, yang dengan cepat mengubah masyarakat yang semula dinamis dan bebas menjadi pegawai pencari nafkah.

Tanpa Pasar Islam kemakmuran Umat tak akan pernah dicapai, kecuali hanya segelintir kalangan tertentu saja. Pasar Islam haruslah kembali sebagaimana suri tauladan awalnya di Madinah al-Munawarah. Semoga segera terwujud...

Sumber 1: http://muamalat.wordpress.com/2007/06/18/pasar-islam-terbuka-2/

Sumber 2: http://www.zahrah-eshop.com/index.php?main_page=more_news&news_id=39

Dikutip dari http://tokodinardirham.wordpress.com dengan beberapa editing.

Belajar memperbaiki niat

Dalam keheningan malam, ketika iseng-iseng kubuka facebook kulihat ada seorang teman memposting aktivitasnya di MosqueLife. Penasaran ingin tahu isinya apa, jemari inipun mengklik link yang ada. Tanpa merasa dipaksa, ingin rasanya menelusuri apa saja isi dari situs yang baru saja kutemukan ini. Akhirnya kubuat akun dan mulai menelusuri isinya.

Subhanallah... ternyata isinya sangat menarik. Mengajak kita untuk memaknai tiap ayat dalam Al Quran, bahkan disediakan pula sarana untuk kita merekam aktivitas kita yang berhubungan dengan Al Quran. Makin tertarik rasanya. Kucoba mencari sebuah ayat yang tadinya tidak terencana, hanya sekilas saja mengingat Nabil (anak pertama yang duduk di kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah) sempat melantunkan beberapa ayat Al Quran. Dan mata ini semakin terarah ke sebuah Surat, Al Mudatsir. Kubaca satu demi satu ayat dan artinya, kok mata dan hati ini nyangkut di satu ayat ini:

al-Qur'an > surah المدثر > ayah 6

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ 6

"dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak."

Sepertinya Allah ingin memberikan sebuah teguran halus pada hamba-Nya yang sering lalai ini, untuk senantiasa memperbaiki niat dalam berbuat.
Seringkali, ketika kita mengeluarkan sedikit, berharap kembali menjadi berlipat ganda. Ternyata Allah telah memperingatkan kita untuk memperbaiki niat dari apa yang akan dan telah kita lakukan.

Mencoba untuk menerapkan ikhlas lillahi ta'ala memang tidak mudah. Namun bukan berarti mustahil untuk dicoba dan mulai dibiasakan. Ketika beramal, mari luruskan niat untuk hanya mengharap agar Allah benar-benar ridlo dengan apa yang kita lakukan. Adapun apabila Allah berikan balasan yang lebih baik (sesuai janji-Nya), biarlah itu menjadi bonusnya saja.

Ya Allah, mudahkanlah hati ini untuk memperbaiki setiap niat yang muncul mengiringi amalan kami. Agar balasan terindah yang Engkau janjikan di hari kemudian, tidak terkotori oleh niatan-niatan penuh nafsu duniawi. Amin, ya Rabbal'alamin....

Ternyata, dalam keheningan malam yang bebas dari hiruk-pikuk kesibukan dunia, Allah masih berkenan untuk menyampaikan sentilan-Nya yang terasa begitu indah. Terima kasih, ya Allah... Alhamdulillahi Rabbil'alamin...

Minggu, 27 Maret 2011

MY LUCKY DAY

Kemarin, Sabtu, tanggal 26 Maret 2011 benar-benar merupakan hari yang penuh dengan keberuntungan bagiku. Bagaimana tidak, sederetan hal yang membahagiakan telah Allah berikan padaku dengan tanpa jeda dan tanpa syarat.

Awalnya, sejak pagi menjelang subuh, karena hari itu akan ada rihlah dari kantor abah, Pustaka Al Kautsar, bersama keluarga karyawan, maka kami perlu bersiap dari pagi supaya tidak terlambat. Namun, sehari sebelumnya sempat agak bingung karena Adila seharusnya mengikuti kegiatan dari sekolah, yakni berenang sebagai syarat mendapatkan nilai olahraga untuk tengah semester ini. Agak berspekulasi juga, sih, boleh bolos, nggak, ya... Akhirnya pagi-pagi jam 06.00 SMS ke wali kelas mohon ijin karena Adila akan ikut kami ke acara kantor abahnya. Alhamdulillah, Bu Guru mengijinkan dengan senang hati.. Terima kasih, Bu Isrin..... Itu letak keberuntungan di pagi hari. Tentu saja selain dibangunkan dalam keadaan sehat wal afiat dan segudang kenikmatan lainnya. Alhamdulillah...

Ketika akan berangkat, berhubung tujuan rihlah ke Mekarsari, sebuah tempat wisata yang cukup dekat dengan rumah, maka kami menunggu rombongan di jalan dekat rumah. Baru saja kami turun dari taxi (meskipun cuma deket banget, mau ngojek kok ya bawa 6 orang plus tas di masing-masing punggung membawa persiapan untuk berenang, ternyata biayanya sama dengan naik taxi, ya mendingan nyetop taxi aja), bus yang membawa rombongan rihlah pas lewat di depan tempat kami. Alhamdulillah.... Udah nggak pake nunggu, dan juga nggak ketinggalan... Beruntung banget, kan...

Sampai di tempat, tujuan pertamanya adalah wahana air atau yang dikasih nama Mekarsari Water Park. Anak-anak yang memang demen banget main air, langsung menghambur kegirangan ngelihat kinclongnya air kolam yang berkilauan diterpa mentari pagi.


Satu hal yang cukup berkesan bagi kami para pengunjung wahana adalah akses yang harus kami tempuh menuju Water Park adalah dua jembatan panjang yang melintasi danau buatan yang cukup besar itu. Awalnya ketika melihat jembatan dan orang-orang yang melintas di atasnya bergoyang-goyang, kupikir itu memang disengaja oleh anak-anak atau orang-orang yang melaluinya. Ternyata, setelah kami melintasinya sendiri, wow.... ada sensasi geli, karena enjut-enjutan dan ada yang bilang pusing karena jembatan bergoyang semakin kencang ke kanan dan ke kiri. Setelah sampai di ujung jembatan, bahkan ketika sudah mencapai daratan pun rasanya kok tanahnya masih bergoyang-goyang. kami sempat geli juga melihat orang-orang bereaksi yang kurang lebih sama. Ada seorang ibu yang masih sempoyongan ketika berjalan di atas tanah. hehehe... puyeng kayaknya itu ibuk.

Setelah puas menikmati permainan air, saatnya kami berpindah tempat ke area tanah lapang yang sudah disiapkan tenda peneduh untuk makan siang. Ketinggalan rombongan, ternyata. orang-orang sudah pada hampir selesai makan, kami baru sampai. Tapi nggak ngsruh, sih... kami makan dengan cukup cepat juga. jadi nggak ketinggalan amat ama rombongan. maklum, laperrrr...... Seusai makan dan shalat, ada pembagian doorprise oleh panitia. Eh, lagi sibuk ngurus anak yang kesana kemari, ternyata nama abah dipanggil. karena nggak ngeh, abah malah bingung. Eh, ternyata nama abah keluar sebagai penerima hadiah. Alhamdulillah.... dapetnya ini, nih... Kipas angin Maspion. Abah langsung seneng banget. Habis, kipas angin di kamar udah rusak dan belum beli ganti, malah dapet gratis. ^_^

Hmmm.... setelah dihitung-hitung, masih banyak anugrah yang Allah berikan, tapi sampai kapan pun, kita tak akan pernah mampu menghitungnya. Allah senantiasa menepati janji-Nya, Dia senantiasa mendengar doa-doa kita, Maha Tahu kebutuhan kita, lebih dari yang kita ketahui. Lantas, nikmat Tuhan yang mana lagikah yang akan aku dustakan?

Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha ilallahu Allahu akbar.

.