Assalamu'alaikum.... Selamat datang...

Minggu, 03 Juni 2012

Kumpulan Golden Words

Sebenarnya, saya sedang mengumpulkan kata dan kalimat motivasi ini bukan karena saya belajar menjadi trainer. Aduh... jauuuuuhhhhh..... Justru karena saya sedang mencari obat buat diri saya sendiri, memompa semangat juang dan berupaya mengobati batin ini yang hampir terpuruk ke dalam jurang keputusasaan. Ojo ngasiiiii...... Hiks.... Duh Gusti, nyuwun kawelasan....


Di saat sedang down, letih, dan merasa berat menghadapi kenyataan, mata ini tergerak mencari-cari bahan untuk mengalihkan sedikit perhatian ke bacaan yang barangkali bisa membuat pikiran sedikit terhibur. Bukannya mendapatkan buku humor kesayangan, eh... malah nemu bukunya Syaikh 'Aidh Al Qarni. Buku ini sebenarnya sudah beberapa waktu saya beli, tapi belum sempat buka-buka, apalagi baca. Waktu itu sih, belum tertarik. Sibuk, alasannya. Padahal pas beli, pengen banget langsung baca.... 


Setelah membuka-buka halaman demi halaman, sebuah kebiasaan yang mungkin tidak lazim bagi kebanyakan orang, saya paling suka baca buku dari bab paling belakang. Entah kenapa, selalu saja bab terakhir yang dioprek-oprek, baru merangsek sedikit demi sedikit ke bagian depan. Kuwalik.... Tapi itulah saya... Setelah rasa penasaran terpuaskan, baru, dech, membaca satu demi satu bab-bab yang judulnya menarik. Tetep, gak selalu dari depan. 


Biasanya, saya menemukan banyak hal mengasikkan berupa aneka kesimpulan dan rangkuman dari isi buku setelah membaca bagian endingnya, tapi di buku ini saya agak terkecoh. Karena justru apa yang saya cari-cari malah ada di bab awal, bab pertama.... weee... lha.... Aku terjebak.... hehe.... 


Sebenarnya, apa, sih, yang kucari? Bukan hal-hal yang gimana.... gitu, sih.... Cuma untaian kata-kata indah  yang terangkai dalam barisan kalimat yang sarat makna. Sudah jamak ditemukan di beraneka buku motivasi, tapi saya merasa kurang afdhol jika belum merangkumnya sebagai catatan dalam blog dan menjadi pengingat biar tetap semangat. Siapa tahu, ada yang mau mengambil manfaatnya juga. Tabungan pahala, dong.... buat saya... Insya Allah, amiin....


Nah, apa aja, sih, yang saya dapat dari buku itu? Ini dia.....
Disarikan dari buku: Laa Tay'as; Jangan pernah Menyerah; Do Not Despire karya Dr. 'Aidh Al-Qarni terbitan Mustafa Center. 


Berikut kalimat-kalimat pembangkit semangat pengusir keputusasaan:

  • Kesuksesan bukanlah segalanya, tetapi hasrat untuk sukses adalah segalanya.
  • Sebuah pekerjaan yang baik selalu lebih baik dari perkataan yang baik.
  • Ketika Anda mempekerjakan orang yang lebih cerdas dari Anda dan mereka mengantarkan Anda meraih apa yang Anda cita-citakan, maka itu bukti bahwa Anda lebih cerdas dari mereka.
  • Kebahagiaan yang tak terhingga adalah ketika Anda meraih sebuah prestasi yang awalnya dikatakan oleh orang lain: Anda tidak akan bisa mewujudkannya.
  • Seseorang tidak akan bisa berkembang jika dia tidak pernah mencoba sesuatu yang bertentangan dengan dirinya.
  • Keberuntungan adalah bertemunya persiapan yang matang dengan momentum.
  • Kegagalan bukanlah sesuatu yang terburuk di dunia, tetapi yang terburuk adalah ketika Anda enggan untuk mencoba.
  • Ada dua cara memiliki rumah tertinggi: Anda menghancurkan seluruh rumah di sekitarmu, atau membangun yang lebih tinggi dari yang lain, dan pilihlah selalu pilihan yang kedua.
  • Segala penemuan yang kita saksikan saat ini adalah sesuatu yang awalnya dikatakan mustahil.
  • Hanya pohon yang berbuah yang dilempari oleh orang. 
  • Perasaan yang paling indah adalah saat Anda merasakan bahwa Anda telah melakukan langkah yang benar, meskipun seluruh dunia memusuhi Anda.
  • Seseorang tidak akan pernah sampai ke taman sukses tanpa melewati halte-halte derita, kegagalan, dan rasa jenuh; namun orang-orang yang memiliki tekad baja takkan pernah berhenti terlalu lama di halte-halte tersebut.
  • Orang-orang sukses di dunia ini adalah mereka yang mencari kondisi yang mereka inginkan, dan jika tidak menemukannya, maka mereka menciptakannya untuk diri mereka. (Bernard Shaw)
  • Penemuan terbesar untuk generasiku adalah bahwa manusia dapat mengubah hidupnya dengan mengubah cara pikirnya (attitude of mind) terlebih dahulu (Wiliam James).
  • Kita adalah apa yang kita lakukan secara terus-menerus (Aristoteles).
  • Tak perlu takut akan suara-suara tembakan, karena tembakan yang membunuhmu tidak akan pernah kau dengar suaranya.
  • Tetesan air bisa melubangi batu bukan karena kerasnya aliran, tapi dengan terus-menerus menetes (Henry Muller).
  • Kebahagiaan bukan berarti Anda tidak punya masalah, tetapi karena Anda mampu mengatasi seluruh masalah  tersebut.
  • Inti dari manajemen adalah kemampuan memprediksi sebelum segala sesuatu terjadi (Henry Fable).
  • Aku sadar bahwa rezekiku tidak akan diambil oleh orang lain, maka hatiku menjadi tenang. (Hakim)
  • Orang yang merasakan nikmatnya sampai di atas tangga adalah orang yang memulai dari bawah. Sedangkan orang yang memulai dari dari atas tangga, tidak ada pilihan lain kecuali turun.
  • Kita mencintai masa lalu karena ia telah pergi, jika ia kembali maka kita akan membencinya.
  • Tanamlah pohon sekarang, esok kita bisa berteduh di bawahnya.
  • Percayalah, hidup ini akan terasa indah jika ditopang oleh perjuangan dan harapan.
Hmmm.... banyak juga Golden Words yang terkumpul hari ini. Padahal ini hanya sebagian dari sekian banyak yang tertuang di buku. Lumayan, lah... Sudah cukup terpompa semangat di dada. Mengokohkan dan meluruskan niat untuk senantiasa berada di jalan-Nya, memohon petunjuk dan hidayah-Nya, berlindung pada-Nya, bismillah..... Semoga selalu dalam ridlo-Nya. Amiin.... ya Robbal 'alamin.... 

Ini kalimat penyemangatku, mana kalimat penyemangatmu? Berbagi, dong.... :)

Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan

Kisah ini saya dapat dari sebuah grup Facebook bernama Millenial Learning Center, diposting oleh Pak Harry Santosa. Saya paste di sini karena sangat menyentuh dan menginspirasi. Selamat membaca, semoga bemanfaat.....

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji "Superman cilik" di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja.

Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar. Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.

Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah "Humor anak-anak" dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggeris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macat dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu.

Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Dia pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

--------------------------------------

Anakmu bukan milikmu.

Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,

Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,

Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.

Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,

Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah untuk raganya,

Tapi tidak untuk jiwanya,

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam mimpi.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka,

Namun jangan membuat mereka menyerupaimu

Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

Pun tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah Anak panah yang meluncur.

Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.

Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,

Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah, 

Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat

Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.

Khalil Gibran

(dari sebuah milist)

.